" Wahai kalian yang rindu
kemenangan!, Wahai Kalian yang turun ke jalan!
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
untuk negeri tercinta"
Sepenggalan lirik lagu yang hampir hilang dimakan zaman, "Totalitas
Perjuangan". Lagu yang mencerminkan perjuangan mahasiswa menyuarakan
kepentingan rakyat kecil yang telah direnggut dari kejamnya penguasa. Lagu yang
pernah ramai dinyanyikan saat rezim Orde Baru jatuh dan juga tidak asing di
kalangan mahasiswa.
Ya!, Mahasiswa, itulah kami. Sebuah title yang berhasil meruntuhkan
rezim Orde Baru di masa kepemimpinan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 silam.
Sebuah title yang dipandang sebagai penerus bangsa yang sangat kritis.
Ya!, Kami adalah generasi perubah. Kami bertanggung jawab atas apa yang terjadi
dengan bangsa ini kedepannya,
yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.
Mahasiswa memiliki peranan penting dalam perubahan (agent of change). Melihat kembali dari kondisi lingkungan dan
negara yang jauh dari kondisi ideal, serta masalah dan polemik yang mengganggu
stabilitas negara. Mahasiswa diharapkan dapat peka terhadap masalah-masalah
yang ada di sekitarnya dan menemukan win-win
solution, Peran ini disebut social
control. Mahasiswa juga bisa menjadi jembatan aspirasi rakyat ke
pemerintah. Jangan heran kenapa mahasiswa kerap melakukan aksi demonstrasi
dengan menyuarakan suara-suara rakyat yang kadang terabaikan. Peran fungsi yang
lain adalah guardian of value, yakni
penjaga nilai-nilai dalam masyarakat agar tak menyimpang dari kaidah yang telah
ditetapkan. Fungsi Mahasiswa yang lain sebagai iron stock, yakni bibit-bibit yang kelak akan meneruskan bangsa,
kembali lagi ke fungsi-fungsi yang sebelumnya.
Perguruan tinggi harusnya menjadi tempat dimana mahasiswa berkembang menjadi
pribadi yang tangguh, kritis, dan membela kepentingan rakyat. Sudah seharusnya
mahasiswa baru tahun pertama (MaBa) ditanamkan nilai-nilai yang ada dalam
mahasiswa. Tentunya dengan cara yang lebih modern dan lebih mendidik.
Sebagian PTN di Indonesia yang tidak lagi menerapkan sistem militerisasi
kepada mahasiswa barunya, namun masih tetap melakukan orientasi mengenai
hal-hal yang harus diketahui di kampus. Di kampus saya, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya sudah tidak lagi menggunakan sistem-sistem
perpeloncoan. Kami mengenalnya dengan sistem pengkaderan atau sistem kaderisasi,
sistem ini juga sama seperti yang saya ketahui dari sistem OSPEK di Perguruan
Tinggi di luar negeri yang lebih dikenal sebagai NSO (New Student Orientation) yang jauh dari sistem OSPEK yang kita
kenal selama ini. Sistem pengkaderan ini adalah sistem membentuk kader-kader
muda bangsa yang berdasar pada Tri Dharma Perguruan Tinggi (Penelitian,
Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat), Peran Fungsi Mahasiswa, Pancasila dan
banyak lagi nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan kepada Mahasiswa.
Di mata masyarakat awam OSPEK masih sangat kental dengan yang namanya
perpeloncoan dan militerisasi kepada mahasiswa baru. Namun, Orientasi memiliki
makna yang sangat penting untuk Mahasiswa Baru dalam menanamkan nilai-nilai
fungsi mahasiswa, mengenalkan lingkungan baru kepada mahasiswa dan sistem
pengajaran di perguruan tinggi beserta aturan yang berlaku.
Sangat disayangkan bukan apabila orientasi mahasiswa baru dihapuskan?. Apa
jadinya ‘title’ mahasiswa tanpa
nilai-nilai yang harusnya ditanamkan kepada Mahasiswa?. Rela-kah kita dipimpin
oleh generasi yang hanya diam, stagnan terhadap perubahan zaman?. Apa jadinya
kalangan elit yang semena-mena terhadap rakyat kecil dan mahasiswa yang tak
menjalankan peran fungsi mahasiswa?. Apa jadinya mahasiswa tanpa nilai
nasionalisme kebangsaan dan kepedulian sosial?. Padahal dalam keadaan bangsa
yang seperti saat ini mahasiswa dituntut untuk berpikir dan bersikap kritis.
Mengingat mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memimpin negara ini
kedepannya.
Lalu apa yang perlu dibenahi?. Yang perlu dilakukan adalah mengubah sistem
orientasi menjadi sistem pengkaderan yang berbasis keprofesian dan kurikulum.
Sistem ini lebih bermanfaat dan lebih memiliki tujuan yang jelas, yakni memberi
pandangan medan profesi yang akan dijalani nanti kepada mahasiswa baru. Dengan
sistem ini, mahasiswa lebih yakin bahwa pengkaderan sangat memberi manfaat
kepada mereka sendiri. Sistem ini mendidik mahasiswa untuk menjadi pribadi yang
tegas, kritis dengan sendirinya, karena telah ditanamkan peran fungsi mahasiswa
yang harus bahkan wajib untuk dilaksanakan.
Mahasiswa baru tidak perlu takut dan khawatir lagi dengan sistem-sistem lama
yang berbau kekerasan. Dengan semakin sadarnya mahasiswa baru akan pentingnya
sistem ini maka semakin baik pula akreditasi yang dicapai oleh perguruan tinggi
yang menerapkan sistem ini, mengingat lulusan yang telah keluar dari perguruan
tinggi yang menetapkan sistem pengkaderan lebih bekerja dengan baik dari ilmu
yang diperolehnya di perguruan tinggi dan proses pengkaderan berbasis
keprofesian dan kurikulum.
Dari pengalaman saya, di kampus perjuangan ITS Surabaya, agenda pengenalan
kampus ada GERIGI(Generasi Integralistik) ITS berisi tentang KM (Keluarga
Mahasiswa) ITS, peranan mahasiswa dan prestasi kampus. Kemudian ada OKKBK (Orientasi Keprofesian dan Kompetensi
Berbasis Kurikulum) dikenal dengan kaderisasi yang berisi tentang
seputar jurusan, sistem kuliah dan keprofesian. Semua itu bermanfaat bagi saya,
tidak ada kekerasan yang ada hanya bimbingan mental saja. Walaupun ada juga
pengalaman teman saya dari jurusan lain dengan latar belakang teknik yang
sering di push-up, karena memang pekerjaan di lapangan yang berlatar belakang
teknik membutuhkan fisik yang kuat. Dan bagaimana cara yang paling nyaman untuk
latihan fisik?, pasti dengan lari dan PSB (push-up,
sit-up, back-up) pastinya.
Dengan demikian, perlu adanya pembenahan sistem orientasi klasik dalam
mendidik mahasiswa baru menjadi sebuah sistem yang bukan hanya sekedar
mendidik, tapi mengajak dan menyadarkan mahasiswa akan pentingnya orientasi dan
beban mahasiswa sebagai generasi pengubah dan penerus yang bisa diandalkan
untuk memimpin bangsa ini di masa depan.
Hidup mahasiswa! Hidup rakyat
Indonesia!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar