Kamis, 18 September 2014

Pengkaderan Mahasiswa dan Kesejahteraan Bangsa


" Wahai kalian yang rindu kemenangan!, Wahai Kalian yang turun ke jalan!
Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta" 

Sepenggalan lirik lagu yang hampir hilang dimakan zaman, "Totalitas Perjuangan". Lagu yang mencerminkan perjuangan mahasiswa menyuarakan kepentingan rakyat kecil yang telah direnggut dari kejamnya penguasa. Lagu yang pernah ramai dinyanyikan saat rezim Orde Baru jatuh dan juga tidak asing di kalangan mahasiswa.

Ya!, Mahasiswa, itulah kami. Sebuah title yang berhasil meruntuhkan rezim Orde Baru di masa kepemimpinan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 silam. Sebuah title yang dipandang sebagai penerus bangsa yang sangat kritis. Ya!, Kami adalah generasi perubah. Kami bertanggung jawab atas apa yang terjadi dengan bangsa ini kedepannya, yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa.

Mahasiswa memiliki peranan penting dalam perubahan (agent of change). Melihat kembali dari kondisi lingkungan dan negara yang jauh dari kondisi ideal, serta masalah dan polemik yang mengganggu stabilitas negara. Mahasiswa diharapkan dapat peka terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya dan menemukan win-win solution, Peran ini disebut social control. Mahasiswa juga bisa menjadi jembatan aspirasi rakyat ke pemerintah. Jangan heran kenapa mahasiswa kerap melakukan aksi demonstrasi dengan menyuarakan suara-suara rakyat yang kadang terabaikan. Peran fungsi yang lain adalah guardian of value, yakni penjaga nilai-nilai dalam masyarakat agar tak menyimpang dari kaidah yang telah ditetapkan. Fungsi Mahasiswa yang lain sebagai iron stock, yakni bibit-bibit yang kelak akan meneruskan bangsa, kembali lagi ke fungsi-fungsi yang sebelumnya. 

Perguruan tinggi harusnya menjadi tempat dimana mahasiswa berkembang menjadi pribadi yang tangguh, kritis, dan membela kepentingan rakyat. Sudah seharusnya mahasiswa baru tahun pertama (MaBa) ditanamkan nilai-nilai yang ada dalam mahasiswa. Tentunya dengan cara yang lebih modern dan lebih mendidik.
Sebagian PTN di Indonesia yang tidak lagi menerapkan sistem militerisasi kepada mahasiswa barunya, namun masih tetap melakukan orientasi mengenai hal-hal yang harus diketahui di kampus. Di kampus saya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya sudah tidak lagi menggunakan sistem-sistem perpeloncoan. Kami mengenalnya dengan sistem pengkaderan atau sistem kaderisasi, sistem ini juga sama seperti yang saya ketahui dari sistem OSPEK di Perguruan Tinggi di luar negeri yang lebih dikenal sebagai NSO (New Student Orientation) yang jauh dari sistem OSPEK yang kita kenal selama ini. Sistem pengkaderan ini adalah sistem membentuk kader-kader muda bangsa yang berdasar pada Tri Dharma Perguruan Tinggi (Penelitian, Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat), Peran Fungsi Mahasiswa, Pancasila dan banyak lagi nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan kepada Mahasiswa.

Di mata masyarakat awam OSPEK masih sangat kental dengan yang namanya perpeloncoan dan militerisasi kepada mahasiswa baru. Namun, Orientasi memiliki makna yang sangat penting untuk Mahasiswa Baru dalam menanamkan nilai-nilai fungsi mahasiswa, mengenalkan lingkungan baru kepada mahasiswa dan sistem pengajaran di perguruan tinggi beserta aturan yang berlaku.

Sangat disayangkan bukan apabila orientasi mahasiswa baru dihapuskan?. Apa jadinya ‘title’ mahasiswa tanpa nilai-nilai yang harusnya ditanamkan kepada Mahasiswa?. Rela-kah kita dipimpin oleh generasi yang hanya diam, stagnan terhadap perubahan zaman?. Apa jadinya kalangan elit yang semena-mena terhadap rakyat kecil dan mahasiswa yang tak menjalankan peran fungsi mahasiswa?. Apa jadinya mahasiswa tanpa nilai nasionalisme kebangsaan dan kepedulian sosial?. Padahal dalam keadaan bangsa yang seperti saat ini mahasiswa dituntut untuk berpikir dan bersikap kritis. Mengingat mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memimpin negara ini kedepannya. 

Lalu apa yang perlu dibenahi?. Yang perlu dilakukan adalah mengubah sistem orientasi menjadi sistem pengkaderan yang berbasis keprofesian dan kurikulum. Sistem ini lebih bermanfaat dan lebih memiliki tujuan yang jelas, yakni memberi pandangan medan profesi yang akan dijalani nanti kepada mahasiswa baru. Dengan sistem ini, mahasiswa lebih yakin bahwa pengkaderan sangat memberi manfaat kepada mereka sendiri. Sistem ini mendidik mahasiswa untuk menjadi pribadi yang tegas, kritis dengan sendirinya, karena telah ditanamkan peran fungsi mahasiswa yang harus bahkan wajib untuk dilaksanakan. 

Mahasiswa baru tidak perlu takut dan khawatir lagi dengan sistem-sistem lama yang berbau kekerasan. Dengan semakin sadarnya mahasiswa baru akan pentingnya sistem ini maka semakin baik pula akreditasi yang dicapai oleh perguruan tinggi yang menerapkan sistem ini, mengingat lulusan yang telah keluar dari perguruan tinggi yang menetapkan sistem pengkaderan lebih bekerja dengan baik dari ilmu yang diperolehnya di perguruan tinggi dan proses pengkaderan berbasis keprofesian dan kurikulum.

Dari pengalaman saya, di kampus perjuangan ITS Surabaya, agenda pengenalan kampus ada GERIGI(Generasi Integralistik) ITS berisi tentang KM (Keluarga Mahasiswa) ITS, peranan mahasiswa dan prestasi kampus. Kemudian ada OKKBK (Orientasi Keprofesian dan Kompetensi Berbasis Kurikulum) dikenal dengan kaderisasi yang berisi tentang seputar jurusan, sistem kuliah dan keprofesian. Semua itu bermanfaat bagi saya, tidak ada kekerasan yang ada hanya bimbingan mental saja. Walaupun ada juga pengalaman teman saya dari jurusan lain dengan latar belakang teknik yang sering di push-up, karena memang pekerjaan di lapangan yang berlatar belakang teknik membutuhkan fisik yang kuat. Dan bagaimana cara yang paling nyaman untuk latihan fisik?, pasti dengan lari dan PSB (push-up, sit-up, back-up) pastinya.
Dengan demikian, perlu adanya pembenahan sistem orientasi klasik dalam mendidik mahasiswa baru menjadi sebuah sistem yang bukan hanya sekedar mendidik, tapi mengajak dan menyadarkan mahasiswa akan pentingnya orientasi dan beban mahasiswa sebagai generasi pengubah dan penerus yang bisa diandalkan untuk memimpin bangsa ini di masa depan.
Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar